Perum Bulog mencatat realisasi pengadaan beras 4.115.014 ton setara beras hingga 8 Oktober 2026, melampaui target penugasan pemerintah 4 juta ton atau 102,88 persen. Capaian ini menjadi realisasi tertinggi sepanjang sejarah perusahaan yang berdiri sejak 1967, sekaligus memecahkan rekor pengadaan 2012 yang hanya sekitar 3,65 juta ton. Di Sulawesi Tenggara, Bulog Cabang Kolaka menyerap 40.514 ton gabah atau setara 20.723 ton beras.
KENDARI — Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut capaian pengadaan tahun ini tidak terlepas dari kerja sama dengan petani, kelompok tani, mitra penggilingan, dan pemangku kepentingan sektor pangan. Realisasi 2026 juga jauh melampaui capaian sepanjang 2025 yang tercatat 3.191.969 ton setara beras.
Penyerapan di daerah sentra produksi menjadi kunci. Bulog Cabang Kolaka, misalnya, terus membeli gabah petani untuk mendukung pemenuhan cadangan beras pemerintah sekaligus menjaga hasil panen tetap terserap.
Kolaka Serap 40.514 Ton Gabah Sepanjang 2026
Bulog Cabang Kolaka mencatat penyerapan 40.514 ton gabah atau setara 20.723 ton beras. Angka itu menjadi bagian dari total realisasi nasional yang menembus 4,1 juta ton.
Penyerapan gabah di tingkat produksi dilakukan lewat penguatan jaringan pembelian, kesiapan sarana penyimpanan dan pergudangan, serta percepatan pengadaan pada momentum panen. Ahmad Rizal menyatakan langkah tersebut memastikan hasil panen petani terserap optimal sekaligus memperkuat stok beras yang dikelola pemerintah.
Rekor Baru Setelah 59 Tahun Bulog Berdiri
Sepanjang sejarah Bulog sejak 1967, pengadaan tertinggi sebelumnya tercatat pada 2012 dengan realisasi sekitar 3,65 juta ton. Rekor 2026 melampaui capaian itu dengan selisih hampir setengah juta ton.
“Capaian lebih dari 4 juta ton setara beras yang memecahkan rekor capaian tertinggi sepanjang Bulog berdiri ini bukan sekadar angka. Di baliknya ada kerja keras, dedikasi, dan semangat seluruh insan Bulog di berbagai penjuru Indonesia,” ujar Ahmad Rizal.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, TNI, pemerintah daerah, petani, penyuluh, serta mitra kerja yang mendukung pencapaian tersebut.
Pengadaan Hulu Jadi Fondasi Stabilisasi Harga
Menurut Ahmad Rizal, pengadaan beras yang kuat di tingkat hulu menjadi fondasi bagi pemerintah untuk menjalankan program stabilisasi harga dan penyaluran pangan kepada masyarakat. Stok yang terkumpul memberi ruang bagi pemerintah mengintervensi pasar saat harga bergejolak.
Bulog berkomitmen melanjutkan penyerapan hasil panen hingga akhir 2026 melalui penguatan operasional dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Target akhirnya mendukung terwujudnya swasembada pangan berkelanjutan.
Bagi petani di daerah sentra produksi seperti Kolaka, penyerapan gabah yang konsisten menjadi jaminan pasar. Harga jual tidak jatuh saat panen raya, sementara cadangan beras pemerintah tetap terisi.