KENDARI — Fadli Zon menegaskan museum tidak boleh hanya menjadi gudang penyimpanan benda koleksi. Menurutnya, museum harus menjadi ruang edukasi yang mampu menampilkan perjalanan sejarah secara utuh, dari masa prasejarah hingga kearifan lokal yang masih hidup di masyarakat.
"Museum bukan sekadar tempat menyimpan benda koleksi. Museum adalah etalase budaya dan etalase peradaban. Dari museum, masyarakat dapat memahami perjalanan sejarah dan kekayaan budaya suatu daerah," ujar Fadli Zon dalam keterangan resmi yang diterima, Sabtu (11/7/2026).
Fokus pada Penataan Ruang Pamer dan Tenaga Profesional
Menbud menjelaskan, museum perlu menghadirkan pengalaman yang lebih menarik bagi pengunjung. Hal itu bisa diwujudkan melalui penataan ruang pamer yang baik, penyajian koleksi yang informatif, pencahayaan yang memadai, serta didukung tenaga edukator dan konservator yang profesional.
Ia menambahkan, museum harus mampu menampilkan kekayaan budaya daerah secara komprehensif. Mulai dari prasejarah, etnografi, bahasa, sastra, manuskrip, tradisi lisan, seni, hingga kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat Sulawesi Tenggara.
Skema DAK Nonfisik dan Kolaborasi Multipihak
Pemerintah pusat berkomitmen memfasilitasi pengembangan museum daerah melalui skema Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik. Sementara untuk peningkatan sarana dan prasarana fisik, diharapkan ada kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, serta kalangan filantropi.
"Museum dan taman budaya harus kita bangun bersama sebagai pusat kegiatan budaya yang berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci agar fasilitas kebudayaan semakin maju dan memberi manfaat yang lebih luas," jelas Fadli Zon.
Museum sebagai Penggerak Ekonomi Daerah
Menbud meyakini, museum yang dikelola dengan baik tidak hanya berfungsi sebagai ruang edukasi dan pelestarian budaya. Lebih dari itu, museum juga mampu menjadi penggerak ekonomi daerah melalui meningkatnya kunjungan wisata, pengembangan produk cendera mata, kuliner lokal, serta penyelenggaraan berbagai kegiatan budaya.
Kunjungan kerja ini turut dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri Komjen Pol (Purn) Akhmad Wiyagus, Gubernur Sulawesi Tenggara Mayjend TNI (Purn.) Andi Sumangerukka, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, serta jajaran Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.