SULAWESI TENGGARA — Ribuan botol plastik bekas yang dulu berakhir di tempat pembuangan kini disulap menjadi fondasi taman dan papan penanda (signage) untuk kawasan agribisnis milik perusahaan. Taman Ecobrick ini merupakan puncak dari program "Dari Hati Untuk Bumi" yang dijalankan PTAR sepanjang 2025.
Dari Sampah Rumah Tangga Jadi Taman
Direktur Bank Sampah Yamantab, Damai Mendrofa, mengatakan pencapaian 10.000 ecobrick ini adalah hasil kerja sama dengan empat bank sampah lokal di Batang Toru: Gocap, Satahi, Naposo Hamubaon, dan Rap Hita Paias. "Dulu plastik rumah tangga itu sampah yang dibuang begitu saja. Sekarang masyarakat menyimpannya, memilahnya, lalu mengisinya menjadi ecobrick," ujarnya saat peresmian.
Hasilnya, kata Damai, bisa dinikmati langsung oleh warga. Selain menjadi taman, ecobrick tersebut juga digunakan sebagai penanda visual untuk Martabe Cocoa dan Martabe Farm—program pengembangan ekonomi lokal PTAR yang berlokasi dekat Sopo Daganak.
Prinsip Ekonomi Sirkular dan Kemandirian Warga
Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources, Katarina Siburian Hardono, menyebut Taman Ecobrick sebagai simbol ekonomi sirkular yang ingin dibangun bersama masyarakat. Tiga dari empat bank sampah lokal yang terlibat kini menjadi mitra binaan perusahaan.
"Taman Ecobrick bukan sekadar hasil pengelolaan sampah plastik, tetapi bukti bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan bersama. Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah ecobrick yang terkumpul, tetapi juga dari tumbuhnya kebiasaan masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan," tutup Katarina.
Warga Ikut Patroli dan Awasi Kualitas Air
PTAR juga melibatkan masyarakat dalam pengawasan lingkungan secara langsung. Di kawasan konservasi Aek Pahu dan Ulu Ala, 14 orang tim SMART Patrol—yang beberapa di antaranya mantan pemburu dan penebang liar—berpatroli setiap hari. Parman Sitanggang, warga Desa Wek 4, sudah hampir dua tahun bertugas menjaga kawasan yang dulu menjadi tempatnya mencari kayu dan berburu.
"Kalau ada temuan seperti satwa, penebangan, atau perambahan, tinggal difoto lalu disimpan di aplikasi beserta titik koordinatnya," ujar Parman.
Di sisi lain, pengawasan kualitas air sisa proses tambang yang dialirkan ke Sungai Batang Toru juga melibatkan perwakilan masyarakat. Ali Marhot Siregar, warga Desa Hapesong Baru, sejak 2024 menjadi bagian dari tim terpadu pemantau kualitas air. "Pengambilan sampel air di beberapa titik selalu dilakukan setiap bulan, kemudian diperiksa di laboratorium independen di Jakarta. Hasilnya diumumkan kepada masyarakat setiap tiga bulan," katanya.
Dalam rangkaian Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, PTAR juga menggelar Aksi Bersih Konservasi Mangrove Lestari dan Pelatihan Membuat Terumbu Karang Artifisial di Tapanuli Tengah, yang diikuti masyarakat dan karyawan.