Pencarian

Janin Membatu dalam Perut: Kisah USG Ibu Hamil 12 Minggu di India

Jumat, 02 Oktober 2026 • 11:48:31 WIB
Janin Membatu dalam Perut: Kisah USG Ibu Hamil 12 Minggu di India
Perempuan 27 tahun di Kolkata, India, menjalani USG akibat nyeri perut dan muntah selama enam jam.

SULAWESI TENGGARA — Seorang perempuan 27 tahun di Kolkata, India, menjalani USG karena nyeri perut dan muntah selama enam jam. Hasilnya mengejutkan: selain janin sehat berusia 12 minggu, dokter menemukan janin kedua yang sudah membatu di rongga perutnya. Berikut penjelasan medis dan tandanya.

Perempuan itu datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri perut hebat dan muntah yang berlangsung enam jam. Pemeriksaan awal tidak menunjukkan masalah pada kehamilannya yang baru memasuki usia 12 minggu. Namun USG lanjutan mengungkap sesuatu yang jarang ditemui dokter kandungan mana pun.

Selain satu janin hidup dengan detak jantung stabil dan gerakan normal, ada janin kedua di sisi kiri perut ibu. Janin itu sudah meninggal dan mengalami kalsifikasi, atau mengeras seperti batu. Berdasarkan panjang tulang pahanya, usia janin tersebut sekitar 22 minggu saat berhenti berkembang.

Apa Itu Litopedion atau Janin Membatu?

Litopedion berasal dari bahasa Yunani yang berarti "anak batu". Kondisi ini terjadi ketika kehamilan tertanam di luar rahim, tepatnya di rongga perut, lalu janin meninggal setelah sekitar bulan ketiga.

Tubuh menghadapi masalah pelik saat itu. Jaringan janin terlalu besar untuk diserap kembali, tapi tidak ada jalur alami untuk mengeluarkannya. Tubuh akhirnya memperlakukan jaringan itu seperti benda asing besar, melapisinya dengan garam kalsium sedikit demi sedikit. Jika dibiarkan bertahun-tahun, janin efektif berubah menjadi batu.

Tiga Syarat Terbentuknya Janin Membatu

Laporan kasus yang diterbitkan jurnal Frontiers in Medicine pada Juli 2026 menyebut ada tiga syarat agar kalsifikasi terjadi. Pertama, kehamilan harus bertahan melewati trimester pertama. Kedua, jaringan harus tetap steril sehingga tidak terbentuk abses. Ketiga, seluruh proses luput dari deteksi selama bertahun-tahun.

Kehamilan abdominal sendiri menyumbang sekitar 1 persen dari kehamilan ektopik, dengan angka kejadian 1 dari 11.000 hingga 1 dari 30.000 kehamilan. Litopedion jauh lebih langka lagi, diperkirakan hanya terjadi pada 0,0054 persen dari semua kehamilan.

Mengapa Kasus Ini Baru Terdeteksi Sekarang?

Litopedion sering tidak menimbulkan gejala berarti. Pada sebagian kasus, keluhan yang muncul hanya nyeri perut ringan atau pembengkakan yang mudah dikaitkan dengan kehamilan yang sedang berjalan.

Riwayat operasi caesar sebelumnya disebut sebagai salah satu faktor risiko. Bekas luka pada rahim dapat mengganggu jaringan di sekitarnya dan meningkatkan kerentanan terhadap kehamilan abdominal sekunder.

Follow www.kabarbaubau.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks