Kepala Lapas Kelas IIA Kendari Mukhtar melakukan sidak langsung ke blok hunian untuk memastikan tidak ada kamar istimewa bagi warga binaan. Pengecekan dilakukan dua hari lalu bersama jajaran pejabat dan staf, menyisir satu per satu kamar di lapas yang kini dihuni 918 orang dari kapasitas ideal 378.
KENDARI — Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kendari Mukhtar menegaskan seluruh warga binaan pemasyarakatan (WBP) diperlakukan setara tanpa fasilitas khusus. Sidak dilakukan dua hari sebelum pernyataannya disampaikan di Kendari, Kamis, dengan menyisir setiap kamar bersama pejabat dan staf lapas.
"Dua hari lalu kami melakukan pengecekan langsung bersama jajaran pejabat dan staf ke satu per satu kamar. Saya pastikan tidak ada kamar-kamar istimewa di dalam, semuanya sama," kata Mukhtar.
Peninjauan menyasar seluruh blok tanpa kecuali. Mukhtar menyebut tidak ada pembedaan fasilitas maupun pelayanan bagi penghuni, termasuk mereka yang terjerat kasus korupsi, narkoba, maupun pidana umum.
Overcrowding: 918 WBP di Kapasitas 378 Orang
Persoalan lebih berat menghadang dari sisi kapasitas. Lapas Kelas IIA Kendari saat ini dihuni 918 warga binaan, sementara daya tampung ideal hanya 378 orang. Selisihnya lebih dari dua kali lipat.
"Satu kamar itu berhimpitan karena jumlah penghuni cukup banyak. Tentu ini menjadi PR buat kami bagaimana mengatur supaya warga binaan di setiap kamar bisa terbagi seimbang dan tetap nyaman," sebut Mukhtar.
Kondisi berhimpitan itu membuat pengaturan penghuni per kamar jadi pekerjaan rumah harian. Pihak lapas belum memaparkan langkah konkret penanganan overcrowding selain penataan sebaran penghuni antar kamar.
15 Rumah Dinas Pegawai Rusak, Renovasi Belum Dianggarkan
Selain blok hunian, Mukhtar menyoroti kondisi 15 unit rumah dinas pegawai yang dibangun sejak 1999. Bangunan-bangunan itu kini membutuhkan renovasi menyeluruh, namun anggaran pemeliharaan dari pusat belum tersedia.
"Untuk sementara hari ini belum ada anggaran rehabilitasi rumah dinas dari pusat. Pegawai yang menempati biasanya secara mandiri memperbaiki bagian bangunan yang rusak agar tetap bisa ditempati bersama keluarga," tambahnya.
Perbaikan swadaya itu dilakukan penghuni agar rumah tetap layak dihuni bersama keluarga. Mukhtar tidak menyebut kapan perbaikan menyeluruh akan dilakukan maupun besaran anggaran yang dibutuhkan.