Tom's Guide baru saja merilis ulasan mendalam mengenai sandal hiking Columbia Konos Hiker 2-Strap, dan hasilnya jauh melampaui ekspektasi awal. Jurnalis penguji mengaku awalnya meragukan desain sandal ini, namun setelah menempuh perjalanan puluhan kilometer, ia menyatakan sandal ini sebagai favorit baru yang akan dipakainya setiap musim panas.
Uji coba dilakukan selama dua gelombang panas berturut-turut di Inggris. Dalam satu pekan, penguji mencatat akumulasi hingga 30.000 langkah hanya dalam satu akhir pekan, dan total keseluruhan mencapai 103.000 langkah selama periode pengujian. Hasilnya? Nol lecet, nol nyeri, dan nol penyesalan.
Kunci Kenyamanan: Straps Berlapis Kain dan Sol Omni-GRIP
Keunggulan utama sandal ini terletak pada desain tali Velcro-nya yang dilapisi kain. Berbeda dengan sandal hiking lain yang menggunakan jangkar plastik, seperti Teva Flatform Universal yang kerap membuat jari kelingking lecet, desain Columbia ini tidak menimbulkan gesekan sama sekali sejak pemakaian pertama.
Solnya juga menjadi nilai jual utama. Columbia menggunakan sol karet dengan pijakan tekstur 3mm yang terinspirasi dari bentuk kerucut pinus. Teknologi "Omni-GRIP" ini terbukti sangat efektif. Penguji mengaku mampu melesat mendahului rekannya yang memakai sepatu sneaker Adidas Spezial saat menanjak di jalur berbatu, dan tidak tergelincir sedikit pun saat melewati turunan berdebu yang curam.
Harga Bersaing, Tapi Ada Catatan Soal Ukuran
Dengan banderol US$70 (sekitar Rp 1,1 juta) untuk pasar Amerika Serikat dan £65 di Inggris, sandal ini berada di kisaran harga yang lebih terjangkau dibandingkan kompetitornya. Sebagai perbandingan, sandal Keen Targhee III dibanderol US$139 dan Teva Flatform Universal sekitar US$80.
Namun, ada dua catatan penting yang perlu diperhatikan calon pembeli. Pertama, Columbia secara resmi menyatakan bahwa model ini cenderung memiliki ukuran yang kecil. Penguji menyarankan untuk memilih satu ukuran lebih besar, terutama bagi mereka yang berada di antara dua ukuran, karena jari kaki berpotensi sedikit keluar dari tepian sandal.
Kedua, fleksibilitas sol yang menjadi andalan kenyamanan ini ternyata memiliki efek samping. Sesekali, bagian sol dapat terlipat ke dalam saat digunakan berjalan. Meski dalam uji coba hal ini tidak pernah menyebabkan penguji terjatuh, mereka yang memiliki masalah keseimbangan atau mobilitas disarankan mempertimbangkan model dengan sol lebih kaku seperti Teva Universal.
Perawatan Mudah dan Garansi Lebih Lama
Dari sisi perawatan, sandal ini tidak merepotkan. Selama sebulan pengujian di musim panas yang kering, penguji hanya perlu membersihkan debu dengan kain kering. Untuk noda membandel, Columbia merekomendasikan sikat berbulu kering dan air hangat.
Columbia juga memberikan garansi dua tahun untuk produk ini, lebih lama dibandingkan garansi satu tahun yang ditawarkan Keen dan setara dengan Teva. Bagi pendaki Indonesia yang sering mencari sandal cadangan di tas carrier untuk berjaga-jaga, model ini layak masuk daftar belanja.