Pencarian

Pola Asuh Otoritatif untuk Anak Tantrum di Era Digital, Ini Panduan Praktis bagi Ibu Muda

Jumat, 31 Juli 2026 • 09:11:31 WIB
Pola Asuh Otoritatif untuk Anak Tantrum di Era Digital, Ini Panduan Praktis bagi Ibu Muda
Ibu muda mendampingi anaknya yang sedang tantrum di area bermain pusat perbelanjaan.

SULAWESI TENGGARA — Bagi ibu muda, momen anak tantrum sering kali menjadi ujian kesabaran terbesar. Apalagi jika ledakan emosi itu terjadi di tengah pusat perbelanjaan atau saat acara keluarga. Padahal, di balik tangisan dan guling-guling di lantai tersebut, ada proses perkembangan otak yang sedang bekerja keras dan membutuhkan respons yang tepat dari orang tua.

Dr. Esty Fatinisna, dosen Prodi PIAUD Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, dalam seminar Hari Anak Nasional bertajuk "Menyikapi Perilaku Tantrum Anak di Era Digital" pada Senin (27/07/2026), menjelaskan bahwa perilaku ini sebenarnya wajar terjadi pada anak usia dua hingga tiga tahun. Pada fase ini, kemampuan verbal anak untuk mengungkapkan keinginan masih terbatas, sehingga emosi meluap menjadi satu-satunya "bahasa" yang mereka punya.

Mengapa Memarahi Anak Saat Tantrum Justru Bikin Masalah Lebih Besar?

Memahami sisi neurosains bisa mengubah cara ibu merespons tangisan anak. Saat tantrum berlangsung, bagian otak yang bernama amigdala—pusat pengendali emosi—bekerja jauh lebih dominan dibandingkan korteks prefrontal yang mengatur logika. Artinya, anak benar-benar tidak bisa berpikir rasional pada saat itu.

"Kondisi inilah yang membuat anak belum mampu berpikir rasional ketika sedang mengalami ledakan emosi. Oleh karena itu, memarahi atau menghukum anak saat tantrum justru tidak akan menyelesaikan masalah," ujar Esty.

Alih-alih ikut berteriak, cobalah untuk tetap tenang. Kenali dulu pemicu ledakan emosinya, lalu berikan validasi atas perasaan yang ia rasakan. Setelah anak mulai tenang, barulah ajak ia berdiskusi mencari solusi bersama. Pendekatan empati ini membantu anak belajar mengelola perasaannya secara bertahap.

Tiga Pilar Digital Parenting untuk Anak Generasi Alpha

Tantangan pengasuhan di era digital memang berbeda dengan generasi sebelumnya. Anak-anak Generasi Alpha tumbuh berdampingan dengan gawai, memiliki kemampuan belajar visual yang cepat, namun berisiko mengalami ketergantungan teknologi, menurunnya empati, dan perilaku individualistis jika tidak didampingi dengan baik.

Untuk itu, Esty memperkenalkan tiga pilar utama yang bisa ibu terapkan di rumah:

  • Batasan layar terstruktur: Tetapkan jadwal dan durasi penggunaan gawai yang jelas dan konsisten setiap harinya.
  • Pendampingan aktif: Jangan biarkan anak menggunakan perangkat digital sendirian. Temani dan terlibatlah dalam aktivitas digitalnya.
  • Keteladanan orang tua: Anak belajar dari apa yang ia lihat. Jika ibu ingin anak mengurangi waktu layar, orang tua juga harus memberi contoh dengan tidak sibuk memegang ponsel.

Seimbangkan Teknologi dengan Aktivitas Fisik di Luar Ruangan

Paparan layar yang berlebihan dapat mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini membuat si kecil lebih rentan kesulitan mengendalikan perasaan saat menghadapi frustrasi. Usia nol hingga enam tahun adalah masa emas perkembangan otak, di mana setiap pengalaman membentuk jaringan saraf fondasi kemampuan belajar dan pengendalian emosi.

Untuk menyeimbangkan hal tersebut, aktivitas fisik memegang peranan penting. Bermain di luar ruangan, berolahraga ringan, atau sekadar berlarian di taman membantu meningkatkan fokus, melatih fleksibilitas berpikir, dan membangun regulasi emosi yang lebih baik. Interaksi langsung dengan keluarga dan teman sebaya juga menjadi cara alami untuk mengasah kemampuan sosial anak.

Keberhasilan mendidik anak di era digital tidak ditentukan oleh seberapa cepat mereka menguasai teknologi, melainkan bagaimana keluarga mampu membangun keseimbangan antara pemanfaatan teknologi, kedekatan emosional, dan interaksi sehari-hari. Dengan pendampingan yang tepat, gawai bisa menjadi sarana belajar yang bermanfaat tanpa menghambat perkembangan sosial dan emosional anak.

Kapan Orang Tua Perlu Waspada dengan Perilaku Tantrum?

Meski tergolong wajar, ibu perlu mulai waspada jika tantrum berlangsung terlalu lama, terjadi berulang dengan intensitas tinggi pada anak yang lebih besar, atau sampai melukai diri sendiri ataupun orang lain. Jika pola ini terlihat, konsultasikan dengan dokter anak atau psikolog untuk mendapatkan penanganan yang lebih spesifik sesuai kondisi si kecil.

Menjadi orang tua di era digital memang penuh tantangan, tapi ingatlah bahwa kualitas interaksi ibu dan anak jauh lebih penting daripada sekadar memberikan akses perangkat digital. Dengan menjadi "arsitek perkembangan" yang hangat dan tegas, ibu sedang membangun fondasi kuat bagi masa depan anak.

Follow www.kabarbaubau.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bandungmu.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks