SULAWESI TENGGARA — Kondisi pasar saham Indonesia sepanjang 2026 berbanding terbalik dengan kesehatan indikator ekonomi nasional. Di tengah IHSG yang tertekan, sejumlah data makro seperti pertumbuhan ekonomi, kualitas kredit perbankan, dan posisi cadangan devisa masih menunjukkan ketahanan. Research Division BEI menilai situasi saat ini jauh berbeda dibandingkan periode krisis 1998, terutama dari sisi tingkat suku bunga.
"Secara fundamental, kondisi Indonesia masih sangat baik. Jika dibandingkan dengan periode krisis seperti 1998, posisi suku bunga saat ini masih jauh lebih terkendali. Tantangan memang ada, terutama dari tekanan global dan domestik, tetapi indikator makro Indonesia tetap menunjukkan ketahanan," ujar Fikrian Naufal H dari Research Division BEI dalam Media Connect yang digelar Samuel Sekuritas Indonesia di Jakarta, Jumat (07/08/2026).
Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga kebijakan sebanyak tiga kali pada Mei-Juni 2026 dengan total akumulasi 100 basis poin menjadi 5,75%. Kebijakan ini merupakan respons terhadap depresiasi rupiah yang mencapai 7,3% secara year-to-date (YTD) hingga Juli 2026.
Meski demikian, posisi policy rate tersebut masih jauh dari level ekstrem saat krisis moneter 1998 yang pernah menembus sekitar 60%. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) perbankan juga masih berada di bawah ambang batas maksimum 5%, sementara cadangan devisa tercatat sebesar US$145,59 miliar pada Juni 2026.
Dari sisi global, investor masih dihadapkan pada ketidakpastian geopolitik, risiko inflasi, dan reli saham teknologi berbasis artificial intelligence (AI). Harga minyak mentah global tercatat meningkat 21% secara tahunan, sementara inflasi Amerika Serikat berada di level 3,7% dan core personal consumption expenditures (PCE) sebesar 3,3%.
Kondisi tersebut mempertahankan ekspektasi kebijakan moneter ketat di AS atau higher for longer, yang berpotensi menekan pasar keuangan negara berkembang. Arus modal, nilai tukar, serta pasar obligasi dan saham Indonesia menjadi korban utama.
Pelaku pasar juga mencermati sejumlah persoalan domestik, mulai dari risiko fiskal, arah kebijakan Bank Indonesia, perkembangan indeks MSCI, hingga rencana kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas strategis.
"Setelah sempat mencetak all-time high pada Januari, IHSG memang mengalami tekanan akibat kombinasi sentimen global dan domestik. Namun, kondisi saat ini juga membuat valuasi pasar menjadi lebih terdiskon. Ini yang perlu dicermati investor, terutama ketika fundamental ekonomi masih relatif solid," kata Fikrian.
Koreksi harga saham dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi. Sebaliknya, penurunan tersebut membuat valuasi sejumlah saham menjadi lebih rendah dibandingkan ketika IHSG berada di level tertingginya.
Di tengah volatilitas indeks, likuiditas perdagangan di pasar modal Indonesia justru menunjukkan tren pertumbuhan. Nilai transaksi perdagangan saham tercatat tumbuh 24,6% YTD hingga Juli 2026, sementara frekuensi transaksi melonjak 41,9% dan volume transaksi meningkat 30,3% pada periode yang sama.
Jumlah investor pasar modal Indonesia juga terus bertambah, menunjukkan basis partisipasi ritel yang semakin luas meskipun pasar sedang tertekan. Aktivitas perdagangan yang tetap tinggi ini menjadi sinyal bahwa koreksi IHSG lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal ketimbang hilangnya kepercayaan investor domestik.
Investasi mengandung risiko.