KENDARI — Museum dan Taman Budaya Sulawesi Tenggara (Sultra) membuka Pameran Wastra Bumi Anoa 2026 di Gedung Kontemporer, Senin (3/8/2026). Pameran ini menghadirkan koleksi kain tradisional yang dinilai semakin langka, salah satunya busana adat yang terbuat dari lapisan luar kulit kayu.
Kegiatan ini diinisiasi UPTD Museum dan Taman Budaya Sultra dan dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sultra, Aris Badara, serta perwakilan dari sejumlah kabupaten di Bumi Anoa.
Salah satu koleksi yang paling menyita perhatian pengunjung adalah pakaian adat berbahan kulit kayu. Busana tradisional ini terdiri atas beberapa jenis, mulai dari rok kulit kayu (rumbai-rumbai), baju dan celana (kinawo/sinolumi), hingga pakaian khusus bangsawan (niroko).
Kepala UPTD Museum dan Taman Budaya Sultra, La Uddin, mengatakan pameran ini juga menampilkan beragam corak kain tenun etnis yang pernah digunakan masyarakat pada masa lampau. Menurutnya, pameran menjadi media komunikasi yang efektif untuk mempromosikan benda-benda budaya di tengah perkembangan tren busana modern.
Pameran ini tidak hanya diisi koleksi dari Museum Sultra. Sejumlah daerah seperti Kabupaten Bombana, Konawe Utara, dan Buton Tengah turut ambil bagian sebagai bentuk kolaborasi memperkenalkan kekayaan budaya masing-masing.
“Kain tradisional sudah sangat langka. Atas dasar itu Museum dan Taman Budaya Sultra berkeinginan melibatkan peserta dari 17 kabupaten/kota agar kegiatan ini semakin ramai dan antusias,” kata La Uddin kepada Sultratop.com, Senin (3/8/2026).
Dari hasil kerajinan tangan para perajin budaya, lahir berbagai produk wastra yang dipamerkan dalam acara ini. Mulai dari selendang, sarung, hingga pakaian adat yang dinilai masih mampu bertahan di tengah perkembangan busana modern.
Seluruh koleksi tersebut ditampilkan agar masyarakat semakin mengenal identitas budaya Sultra. Wastra sendiri merupakan kain tradisional yang memiliki makna dan simbol tersendiri, mengacu pada dimensi warna, ukuran, dan bahan, seperti batik, tenun, hingga songket.
Pameran yang dijadwalkan berlangsung hingga 7 Agustus 2026 ini kemungkinan akan diperpanjang hingga akhir bulan. Rencana tersebut muncul karena kegiatan diselenggarakan di Gedung Kontemporer yang dinilai representatif.
“Karena diselenggarakan di Gedung Kontemporer, kami berencana menambahkan durasi kegiatan hingga akhir Agustus. Dengan waktu yang lebih panjang, masyarakat bisa menyempatkan diri berkunjung sembari menikmati nuansa kemerdekaan,” tegas La Uddin.
Pameran ini diharapkan dapat menarik lebih banyak masyarakat untuk berkunjung sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian budaya daerah.