Pendapatan Aplikasi India Tembus Rp 5,5 Triliun di Q2 2025, AI dan Streaming Jadi Motor Utama

Penulis: Ragil  •  Sabtu, 01 Agustus 2026 | 06:42:01 WIB
Laporan Sensor Tower mencatat pendapatan aplikasi India mencapai Rp 5,5 triliun pada kuartal kedua 2025.

SULAWESI TENGGARA — Laporan terbaru dari Sensor Tower mengungkap perubahan besar perilaku pengguna ponsel di India. Negara yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai pasar unduhan aplikasi terbesar di dunia kini mulai serius membelanjakan uang untuk layanan digital, bukan sekadar mengunduh aplikasi gratis.

Data yang dibagikan ke TechCrunch menunjukkan pendapatan per unduhan di India telah tumbuh lebih dari dua kali lipat dalam tiga setengah tahun terakhir. Sementara itu, jumlah unduhan kuartalan tetap stabil di angka 6,3 miliar sejak 2023.

AI dan Streaming Pendorong Utama Pertumbuhan

Kategori non-game kini mendominasi struktur pendapatan aplikasi India. Sensor Tower mencatat kontribusinya mencapai 68 persen dari total pendapatan aplikasi pada paruh pertama 2025, naik signifikan dari 58 persen tiga tahun sebelumnya.

Segmen AI menjadi bintang utama. ChatGPT dari OpenAI dan Claude milik Anthropic secara gabungan menyumbang hampir 83 persen dari seluruh pendapatan aplikasi AI di India pada kuartal kedua. Google One tercatat sebagai aplikasi dengan pendapatan tertinggi di India selama kuartal tersebut.

Platform streaming juga ikut menikmati momentum ini. Amazon Prime Video, Crunchyroll, Sony LIV, dan JioHotstar semuanya mencatat pertumbuhan belanja konsumen yang solid. Menariknya, sektor game justru melawan tren global — pendapatannya naik 3,7 persen dibanding kuartal sebelumnya, sementara pasar game dunia sedang lesu.

Adopsi UPI dan Dompet Digital Jadi Katalis

Eve Chen, analis wawasan di Sensor Tower, menjelaskan bahwa perubahan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Adopsi luas sistem pembayaran digital India, terutama Unified Payments Interface (UPI) yang memungkinkan transfer langsung dari rekening bank, serta dompet digital, telah menghilangkan hambatan utama dalam transaksi dalam aplikasi.

"Kami menggambarkan India saat ini sebagai pasar mobile yang berkembang pesat dengan basis pengguna besar dan kemauan membayar untuk layanan digital yang terus meningkat," ujar Chen kepada TechCrunch.

Dia menambahkan bahwa penerimaan masyarakat terhadap model berlangganan dan layanan premium digital juga tumbuh seiring waktu.

Posisi India di Peta Aplikasi Global

Pertumbuhan India menonjol di antara pasar-pasar besar dunia. Pada Q2 2025, India mencatat pertumbuhan pendapatan aplikasi tercepat di antara negara-negara dengan belanja konsumen kuartalan di atas USD 200 juta. Sebagai perbandingan, Meksiko tumbuh 30 persen dan Turki 25 persen, sementara pendapatan aplikasi di Amerika Serikat justru turun 3 persen pada periode yang sama.

Kendati demikian, jarak dengan pasar matang masih sangat lebar. Pendapatan per unduhan di AS mencapai USD 4,60, Korea Selatan USD 3,90, dan Jepang USD 6,10. Angka India masih jauh di bawah itu semua. Namun Chen menegaskan bahwa lintasan pertumbuhan lebih penting daripada level absolut saat ini.

"Angka-angka ini menunjukkan India tidak lagi sekadar pasar terbesar berdasarkan unduhan, tetapi juga muncul sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan monetisasi tercepat," kata Chen.

Era AI yang Lebih Tenang tapi Tetap Besar

Appfigures, firma intelijen aplikasi lain, melihat pasar berlangganan aplikasi India masih tumbuh meski lajunya melambat setelah ledakan AI dalam dua tahun terakhir. Ariel Michaeli, pendiri dan CEO Appfigures, memperkirakan ChatGPT menghasilkan sekitar USD 60.000 per hari di India dengan sekitar 1,8 juta unduhan dalam sebulan terakhir.

"Angkanya masih mencengangkan," ujar Michaeli. Namun ia mencatat angka tersebut turun dari puncaknya sekitar USD 80.000 per hari pada Oktober tahun lalu, menandakan euforia awal AI mulai mereda.

Bagi pengguna Indonesia, tren ini menjadi cermin menarik. Adopsi pembayaran digital yang masif, seperti QRIS, berpotensi mendorong pola serupa di pasar lokal. Kemudahan transaksi terbukti menjadi kunci mengubah pengguna dari sekadar pengunduh menjadi pembayar.

Reporter: Ragil
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top