BAUBAU — Layar Benteng resmi menuntaskan pengembaraannya di Pulau Buton. Titik pamungkas digelar di kawasan Benteng Sorawolio, Kota Baubau, Sabtu (1/8/2026) malam, menandai berakhirnya program pemutaran film keliling yang telah menyambangi enam lokasi bersejarah dan desa adat.
Berbeda dari lima edisi sebelumnya, malam penutup ini dikemas sebagai marathon screening. Sembilan film fiksi dan dokumenter diputar beruntun mulai pukul 19.00 WITA, terdiri dari karya pelajar, komunitas, hingga sineas independen yang telah mengantongi penghargaan di tingkat kota, provinsi, dan nasional.
Sejak digelar, Layar Benteng telah menjangkau benteng-benteng bersejarah dan desa adat di empat kabupaten/kota di Pulau Buton. Titik awal dibuka di Benteng Wolio, Kota Baubau, sebelum berlanjut ke Desa Adat Wapulaka di Kabupaten Buton Selatan.
Rangkaian kemudian menyambangi Desa Adat Wasuamba, Benteng Rongi, dan Desa Adat Wabula di Kabupaten Buton. Ribuan warga disebut memadati setiap lokasi pemutaran selama program berlangsung.
Project Manager Layar Benteng, Andhy Loppes Eba, menegaskan bahwa animo masyarakat yang terus tinggi di setiap titik membuktikan film tidak melulu identik dengan gedung bioskop. Benteng dan desa adat, menurutnya, mampu menjadi ruang dialog yang hidup bagi warga.
“Layar Benteng lahir dari keyakinan bahwa film tidak hanya hidup di gedung bioskop, tetapi juga dapat tumbuh di tengah masyarakat. Enam titik pemutaran yang telah kami lalui membuktikan bahwa benteng dan desa adat mampu menjadi ruang budaya yang hidup, tempat masyarakat berkumpul, berdialog, dan mengapresiasi karya sineas lokal,” ujar Andhy.
Salah satu sajian utama malam Final Chapter adalah pemutaran perdana film dokumenter produksi terbaru Seribu Benteng Production. Film ini menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton yang selama ini mengikuti perjalanan program.
Selain itu, sembilan film yang ditayangkan merupakan kurasi karya-karya yang telah malang melintang di berbagai ajang penghargaan. Andhy menyebut pemilihan ini merupakan bentuk apresiasi kepada masyarakat sekaligus bukti kualitas sineas lokal mampu bersaing di level nasional.
“Di titik terakhir ini kami ingin menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda melalui marathon screening sembilan film fiksi dan dokumenter, termasuk pemutaran perdana film dokumenter terbaru Seribu Benteng Production,” jelasnya.
Malam penutup tidak hanya diisi pemutaran film. Pertunjukan seni budaya dan sesi diskusi bersama sineas turut meramaikan kawasan Benteng Sorawolio, menjadikannya ruang apresiasi seni yang utuh bagi masyarakat Kota Baubau.
Program Layar Benteng sendiri merupakan bagian dari Sinema Indonesiana yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana yang dikelola bersama LPDP. Seribu Benteng Production berharap perjalanan ini menjadi fondasi lahirnya sineas-sineas baru di Pulau Buton serta mendorong pemanfaatan cagar budaya sebagai ruang kreatif yang memperkuat identitas lokal.